Pages

Tampilkan postingan dengan label My Pet Sally. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Pet Sally. Tampilkan semua postingan

Selasa, Agustus 12, 2014

My Pet Sally Bintang Tamu Stifest

MY PET SALLY

Band Punk 'Manis' Tanpa Atribut PUNK. Banyak yang salah kaprah mengindentikkan anak-anak punk. Menurut anggapan mereka-mereka yang ?bergaya? punk secara fashion, punk adalah sepatu boot, celana ketat, rambut mohawk dan piercing di seantero tubuh. Benarkah?

Konon, gaya hidup punk itu selalu dengan pemberontakan. "Kami tidak setuju. Bagi kami punk itu sebuah spirit. Kalau kita sih ambil semangat bermusiknya saja",jelas Dessy [lead itar], Jimbo [drum], dan Renyka [vokal/bas] yang tergabung di My Pet Sally Band.

MyPetSally resmi berdiri pada tanggal 31 Desember 2003, yang pada saat itu masih menamakan dirinya dengan CROSLINE. Namun merasa sedikit kurang “sreg” dengan nama tersebut mereka memutuskan untuk mengubahnya menjadi MYPETSALLY. Nama ini didapat secara spontan, karena saat itu sedikit terburu-buru untuk mencantumkan nama pada proposal yang hendak diserahkan pada sebuah even musik Campus. Mengingat saat itu band mereka masih belum mempunyai nama. Nama MYPETSALLY sendiri kami ambil dari judul sebuah lagu BLINK182 di Album mereka yang bertajuk “BUDHA”.

Arti nama My Pet Sally

Menurut mereka, kata MyPetSally itu sendiri, sebenarnya mempunyai banyak arti. Dimana Sally itu sendiri bisa diartikan sebagai Serangan tiba-tiba atau bisa juga berarti sebagai suatu kejenakaan. Jadi disini mereka memadukan kedua arti tersebut sebagai gambaran bagi warna musik yang mereka bawakan. Yaitu sebagai sesuatu yang merupakan serangan, namun dengan adanya kejenakaan, maka yang didapat bukannya ketakutan tapi hanya kesenangan yang akan dirasakan oleh audience semua.

Dalam bermusik maupun performance, mereka mengakui selama ini telah terinfluence pada band-band idola kami seperti “HI-STANDARD”, “BLINK 182”, “No Use 4 a Name”, “MXPX”, “SUM 41”, “Gold Finger”, “New Found Glorry”, and more.

My Pet Sally pertama kali manggung pada malam pesta tahun Baru 2004 di acara "Dynamite Sound part II" UPN. Selanjutnya mereka biasa manggung di Even2 music kampus, maupun acara2 music di Kota Jogjakarta dan sekitarnya. Menurut mereka pengalaman manggung yang paling berkesan selama ini yaitu pas acara PAT PAT GULIPAT PARTY dalam rangka HUT Radio SWARAGAMA FM, bareng Endank Soekamti, dan band2 Jogjakarta lainnya yang merupakan acara amal pengumpulan Dana buat anak2 yang membutuhkan.

Sejarah My Pet Sally

Menyinggung sejarah My Pet Sally, menurut penjelasan Dessy, band mereka sebenarnya sudah cukup lama memainkan punk melodic sebagai pilihan bermusiknya. "Selagi punk melodic belum jadi trend seperti sekarang, kita sudah nekat memainkannya," jelas cewek yang ngefans dengan BLINK 182. Kira-kita emapat tahun silam, ketika masih bernama Freunde, mereka tergolong punya fans yang tidak sedikit. "Kita seangkatan dengan Endank Soekamti, tapi dia mentas duluan," celetuk Dessy sambil terkekeh. Endank Soekamti adalah band melodic punk yang naik daun dengan hits Bau Mulut. Yang unik dan cukup membedakan My Pet Sally dengan band melodic punk lainnya, dari tiga personilnya, dua orang cewek, satu orang cowok.

Meski punk terkenal dengan lirik-lirk provokatif dan lantang tentang pemberontakan, My Pet Sally memilih lirik cinta sebagai acuan. "Tapi bukan cinta yang menye-menye mas, istilahnya ketegaran cintalah," terang Jimbo, cowok yang bernama asli Suryo Santoso sambil terseyum.

Personil My Pet Sally juga sadar, musik yang mereka mainkan juga tergolong trend perputaran musik. "Kalau suatu saat trendnya turun, kita sih tetap akan main punk. Hanya mungkin akan kita imbuh beberapa alat musik tradisional supaya berbeda," ujarnya sembari menyebut alat musik bigpipe dan flute Irlandia sebagai alat musik yang coba mereka sandingkan dengan musik punk. Pertemuan dua kutub musik itu, akan dijadikan semacam ciri khas buat My Pet Sally. "Kita tidak pingin itu cuma jadi tempelan saja, tapi betul-betul utuh dengan musik yang kita mainkan," jelas Renyka serius.

My Pet Sally termasuk beruntung, lantaran satu lagunya yang masuk kompilasi Berpacu Dalam Melodic dipilih sebagai single pertama dan dibuat video klipnya. "Yah semoga kami bisa makin dikenal dan diterima dengan baik di komunitas punk dimana saja," harap Jimbo, Renyka dan Dessy.

My Pet Sally sendiri pernah menjadi bintang tamu utama dalam acara kompetisi band terbaik di Mataram, Lombok (Nusa Tenggara Barat) yang dinamakan STIFEST / Smansa Student Music Festival pada tahun 2005. Event itu sendiri dihadiri oleh ribuan crowd yang memadati Gedung Taman Budaya Mataram dan berlangsung dengan sukses.

Download Lagu My Pet Sally Di Sini.

Sabtu, April 18, 2009

STIFEST: Gairah Tinggi Musikalitas Mataram!

STIFEST

MAU tahu bagaimana crowd daerah yang tidak dikenal sebagai basis musik nasional jika nonton konser? Sepi? Ah, jangan menghakimi. Mereka justru lebih heboh dibanding penonton di kota yang sering dianggap sebagai basis musik lo.

Tidak percaya?

Mataram, ibukota Nusa Tenggara Barat (NTB), minggu lalu diguncang festival musik yang cukup kencang. Tak cuma karena festivalnya, tapi juga karena ada bintang tamu dari Jogjakarta, pengusung punk melodic, My Pet Sally (MPS). Festival ini dinamakan STIFEST (Smansa Student Music Festival) dan diadakan oleh siswa-siswi SMA Negeri 1 Mataram (Smansa Mataram) sejak tahun 2002.

Tak main-main, karena festival ini digelar selama tiga hari (1-3 September 2005) termasuk penyisihan. Sampai akhirnya 10 finalis tampil di final dengan bintang tamu MPS tadi. Ada sekitar 30 band lokal yang ikut seleksi.


The Final

Final digelar 3 September 2005 di Gedung Taman Budaya Mataram yang berkapasitas 2000 penonton. Yang membedakan Mataram dengan penonton di pulau Jawa adalah, crowd di NTB "malu" kalau nonton tidak bayar. Alhasil tiket terjual habis. Di pulau Jawa, penonton masih "malu" kalau tidak sukses menjadi penerobos.

Jadi, jangan bayangkan suasana yang nyaman jika berada di gedung dengan 2000 penonton tanpa pendingin yang memadai. Panasnya minta ampun. Tapi jangan kaget, penonton kok asik-asik saja ya?

Yang mengagetkan penulis, acara se-akbar untuk ukuran lokal Mataram tersebut, digagas oleh sekelompok anak-anak putih abu-abu alias SMU. Yang punya gawe adalah SMU 1 Mataram. Salut buat mereka yang tidak kalah dengan anak-anak ibukota.


MPS Time!

Menunggu 10 finalis main, tentu butuh energi tersendiri. Tak heran MPS sebagai bintang tamu baru naik panggung sekitar pukul 23.oo WITA. Mendapat jatah 5 lagu, membuat Renyka (Bass/Vocal), Deasy (Guitar), dan Jimbo (drum), seperti tak ingin kehilangan momen untuk langsung menggebrak. Dibuka dengan lagu "Fighting Fist", penonton yang sudah menunggu sejak sore hari, langsung maju ke bibir panggung. Disusul gempuran lagu selanjutnya "Halo Ibu Kos", "Gerombolan Siberat" dan tentu saja singel "Cinta 18".

Lumayan, penonton ikut menyanyikan lagu "Cinta 18" yang masuk dalam kompilasi "Berpacu Dalam Melodic". Rupanya lagu ini cukup dikenal di daerah yang bisa dibilang cukup jauh dari basis musik di Pulau Jawa.

Sekedar catatan, penonton tampaknya harus belajar menghargai penonton lain. Pasalnya, ketika sempat bersenggolan, mereka langsung bersitegang. Eh, mas.. Ini bukan konser dangdut yang senggol bacok lo ya? Untung saja mereka cepat sadar diri, sehingga tidak terjadi keributan yang lebih luas.

Terlalu singkat memang, karena 20 menit yang digeber, tidak terasa sudah berlalu. meski crowd masih minta tambahan lagu, panitia lokal bersikukuh tidak mengabulkan. Maklum, sudah mulai larut malam.


Catatan Penulis

Catatan dari penulis. Festival ini memang bukan festival yang terbaik, tapi paling tidak memberi gambaran Mataram (dan sekitarnya) punya keinginan untuk berkembang di bidang musik. Yang harus diperhatikan oleh komunitas musiknya, referensi musiknya harus lebih dikembangkan, supaya tidak tertinggal dengan daerah lain.

Untuk sebuah perhelatan musik, STIFEST ini patut diacungi jempol, meski baru satu jempol. Siapa tahu, ada musisi nasional yang kelak muncul dari ajang ini. (joko/foto: istimewa)


disadur dari: www.tembang.com