Pages

Tampilkan postingan dengan label Smansa Student Music Festival. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Smansa Student Music Festival. Tampilkan semua postingan

Senin, Mei 25, 2009

STIFEST

STIFEST


STIFEST, Smansa sTudent musIc FESTival, sebuah karya kami anak-anak berusia belasan tahun yang masih senang berkumpul, mencari identitas diri, dan menikmati masa pubertas bersama komunitas kami.

Awalnya sekedar sebuah kebanggaan akan nama besar sekolah kami di lingkungan pendidikan kota Mataram, kemudian beralih kepada sebuah ambisi bersama untuk memiliki acara kompetisi band pelajar SMA yang prestisius, terbesar, dan terbaik di lingkungan kami, hingga akhirnya kami semua tersadar bahwa ini adalah sebuah keluarga besar kepanitian yang harmonis, penuh memori, suka duka, dan perjuangan yang tak terlupakan. Memberi kami arti apa itu kebersamaan, bukan sekedar sekumpulan anak remaja yang masih bersekolah dan tergabung dalam sebuah panitia.

Prinsip Utama Stifest

STIFEST sudah seharusnya menjadi sebuah acara yang penuh nilai-nilai kebersamaan. Kolaborasi antara sikap respect sesama panitia, saling menghargai sesama peserta, dan kebersamaan penonton untuk menyaksikan adu kualitas bakat di bidang musik. Harmonisasi dan sikap saling menghargai, adalah esensi dari acara ini dari tahun ke tahun. Panitia dengan selayaknya menghargai seluruh peserta, dan semua penonton, karena merekalah tolok ukur dan kunci sukses keberhasilan pelaksanaannya.

Tidak ada satupun dari kami yang lupa bagaimana rasanya membagi tugas, setiap orang menjalankan fungsinya sendiri dalam kepanitian, masing-masing berjalan ke arah ayng berbeda-beda, namun berujung pada sebuah tujuan, yakni terlaksananya acara ini dalam balutan kemewahan untuk ukuran kompetisi amatir pelajar di Nusa Tenggara Barat, bergaung dengan maksimal, dan mendapat apresiasi yang cukup dari semua orang yang terlibat, ataupun sekedar mengetahuinya.


Adalah sebuah kepuasan tersendiri bagi kami untuk melihat acara ini kembali terdengar gaungnya setiap tahun, bergema hingga seluruh kota mataram, hingga di ujung batas dunia maya sekalipun.

Visi STIFEST

Semoga seiring berjalannya waktu, STIFEST terus mengalami perubahan yang lebih baik dari segi kualitas dan kuantitas. Kualitas acara yang meningkat, prestise yang semakin tinggi, kuantitas peserta yang berasal dari bermacam-macam latar belakang kualitas skill bermusik, dan kuantitas penonton yang berkualitas alias ramai tapi tertib, penuh sesak tapi nyaman.

Kami percaya bahwa STIFEST akan selalu dijalankan oleh para pelajar visioner, yang mampu melihat masa depan dimana acara ini akan menjadi sebuah kompetisi tingkat nasional, dan melahirkan band-band berkelas internasional, serta sejumlah individu yang mampu bicara banyak di industri musik Indonesia.

Visi itulah yang kami pegang beberapa tahun terakhir, walaupun sudah tentu akan melewati proses yang teramat panjang. Setidaknya misi kami tetap kami pegang teguh, yakni untuk melaksanakan acara ini sebaik-baiknya, dengan usaha kami yang paling keras, berbalut semangat, dan kebersamaan. Tidak peduli apa yang telah terjadi sebelumnya, dan apa yang akan terjadi nanti, kami hanya berusaha sekuat tenaga, mengadakan sebuah acara besar nan megah, yang kami sebut: STIFEST.

Stifest adalah buah karya dari siswa-siswi SMA Negeri 1 Mataram (Smansa Mataram) yang merupakan festival terbesar diantara pensi lainnya yang pernah diadakan di Nusa Tenggara Barat pada saat itu.

Rabu, April 29, 2009

STIFEST 2002 Guest Star: Coke Pit

Coke-Pit

Nama COKE-PIT terinspirasi dari botol sebuah merk minuman ternama yang memiliki filosofi: "Dengan melihat bentuk botol yang pada ujungnya memiliki rongga yang kecil kemudian makin membesar namun memiliki batas kaca sebagai penampungnya, COKE PIT berharap dari hanya sekedar band yang tidak memiliki pengalaman akan menjadi besar,namun tetap memiliki batasan,yaitu norma dan etika".

Nama Coke-Pit sempat beredar jauh hingga ke pulau Lombok berkat acara STIFEST 2002 yang mendaulat mereka sebagai bintang tamu utama di festival musik anak sekolah terbesar di Nusa Tenggara Barat. Acara tersebut berlangsung sukses dengan disesakinya gedung Taman Budaya hingga lebih dari 2000 penonton pada saat final berlangsung.

Sejarah Band Coke-Pit

Berawal dari sebuah komunitas underground di sebuah kota kecil bernama Tasikmalaya yang punya nama CALADI GROUNDERS, yang disana berkumpul band-band dari berbagai aliran.

Saat itu Abe (vocal/gitar akustik),masih menjadi gitaris & vokalis dari DEMANG, sebuah band beraliran punk rock yang lumayan punya nama di kota itu merasa jenuh dengan konsep yang dimainkan band nya.Kemudian dengan bekal beberapa lagu ciptaannya, dia mengajak Senx-Senx - drum (ABAL ABAL/grunge), Be’onk - gitar (MORTUARY/black metal), dan Ayanx - bass (EMBARGO/hardcore), yang kebetulan masih satu komunitas dengannya untuk ber-jam session di studio. Mungkin dari diri mereka masing-masing merasakan hal yang sama pada band nya, dan chemestry yang kuat diantara mereka bahwa mereka sama2 memiliki visi yang sama untuk terus bisa survive sebagai seorang musisi, maka terbentuklah COKE PIT pada 12 februari 2000 yang beraliran Pop Rock. Merasa ada sedikit kekurangan untuk sesi lead gitar pada COKE PIT, maka Abe mencoba mengajak Aang yang juga kakaknya, yang pada saat itu masih menjadi bassist di GASOLINE (raprock) untuk mengisi posisi tersebut. Setelah mencoba untuk jam session, maka Aang pun tertarik untuk menjadi additional player di COKE PIT, dan mereka kemudian mencoba membuat beberapa demo track lagu mereka dengan dibantu oleh Ryan (manager) untuk mendanai rekaman tersebut.

Beberapa hari menjelang saat rekaman, Aang mengalami masalah pada bandnya yang dia rasa sudah tidak lagi memiliki kesamaan visi, maka pada saat itu Aang menyatakan hengkang dari GASOLINE (band ini akhirnya didaulat untuk menjadi bintang tamu pada STIFEST I yang diadakan pada tahun 2003). dan kemudian resmi menjadi player di COKE PIT.

Dengan berbekal demo tape empat lagu, mereka kemudian sepakat untuk hijrah ke Bandung, dengan alasan bahwa Bandung merupakan kota paling kompetitif untuk musik,dan itu merupakan tantangan untuk mereka.Disana mereka mulai merambah event2 kampus, menawarkan demotape mereka ke radio2 & label rekaman,sampai mencoba untuk mentas di cafe-cafe, yang sempat pula mendapat tawaran dari luar kota.

Selama di Bandung, mereka pun sempat mengikuti seleksi yang diselenggarakan sebuah stasiun TV yang menampilkan demotape band-band dari berbagai daerah, yang Alhamdulillah COKE PIT sendiri sempat menjadi band terfavorit pada program tersebut hingga mendapat tawaran untuk membuat sebuah klip sederhana yang ditayangkan stasiun TV tersebut,hingga beberapa waktu kemudian COKE PIT mendapat tawaran untuk mengisi acara STIFEST 2002 yang diadakan oleh SMA Negeri 1 di Mataram - Lombok.

Gradasi Hati

Hingga beberapa tahun kemudian seluruh personil COKE PIT memiliki bekal yang cukup untuk kembali eksis di kota asal mereka, Tasikmalaya. Di kota tesebut mereka kembali merambah event-event lepas, sampai pada saat mereka mengikuti audisi untuk membuat sebuah album kompilasi yang diseleksi dari band-band yang ada di seluruh Jawa Barat yangberjudul A MILD DEBUT, dimana salah satu lagu mereka yang berjudul GRADASI HATI berhasil masuk dalam kompilasi tersebut hingga pada akhir 2004 COKE PIT menjadi salah satu pengisi acara pada A MILD LIVE SOUNDRENALINE di Jakarta.

Setelah mengalami berbagai proses dan situasi, saat ini Coke Pit mencoba untuk mematangkan konsep musik mereka dengan sentuhan warna-warna baru yang tentu saja tidak menyimpang dari warna sebelumnya. Dengan konsep formasi 4 orang tersebut memberikan kesan bahwa konsep musik dengan sentuhan rock dan higher fantasy, menjadikan Coke Pit lebih "ber-energi" untuk membuat musik Coke Pit lebih "berisi". Warna baru ini sepintas seperti perpaduan antara Weezer dan Coldplay, yang pada satu sisi terdapat beat-beat riang tetap dengan sentuhan overdrive yang lebih kental dan akustik gitar, namun disisi lain membuat lagu-lagu mereka membutuhkan khayalan yang dalam untuk dapat menikmatinya.


Namun. kabar terakhir yang diperoleh dari friendster milik band ini menyatakan bahwa mereka telah memutuskan untuk membubarkan diri setelah delapan tahun berkarya. Sangat disayangkan mengingat mereka belum genap setahun meluncurkan album major label perdananya, "Lukisan Harap" pada tahun 2008. Band ini boleh bubar, namun semoga karya mereka akan tetap abadi dan terus didengar oleh para penggemarnya.

-- tambahan informasi, band ini telah aktif lagi sesuai pernyataan pada komentar di bawah --

Sabtu, April 18, 2009

STIFEST: Gairah Tinggi Musikalitas Mataram!

STIFEST

MAU tahu bagaimana crowd daerah yang tidak dikenal sebagai basis musik nasional jika nonton konser? Sepi? Ah, jangan menghakimi. Mereka justru lebih heboh dibanding penonton di kota yang sering dianggap sebagai basis musik lo.

Tidak percaya?

Mataram, ibukota Nusa Tenggara Barat (NTB), minggu lalu diguncang festival musik yang cukup kencang. Tak cuma karena festivalnya, tapi juga karena ada bintang tamu dari Jogjakarta, pengusung punk melodic, My Pet Sally (MPS). Festival ini dinamakan STIFEST (Smansa Student Music Festival) dan diadakan oleh siswa-siswi SMA Negeri 1 Mataram (Smansa Mataram) sejak tahun 2002.

Tak main-main, karena festival ini digelar selama tiga hari (1-3 September 2005) termasuk penyisihan. Sampai akhirnya 10 finalis tampil di final dengan bintang tamu MPS tadi. Ada sekitar 30 band lokal yang ikut seleksi.


The Final

Final digelar 3 September 2005 di Gedung Taman Budaya Mataram yang berkapasitas 2000 penonton. Yang membedakan Mataram dengan penonton di pulau Jawa adalah, crowd di NTB "malu" kalau nonton tidak bayar. Alhasil tiket terjual habis. Di pulau Jawa, penonton masih "malu" kalau tidak sukses menjadi penerobos.

Jadi, jangan bayangkan suasana yang nyaman jika berada di gedung dengan 2000 penonton tanpa pendingin yang memadai. Panasnya minta ampun. Tapi jangan kaget, penonton kok asik-asik saja ya?

Yang mengagetkan penulis, acara se-akbar untuk ukuran lokal Mataram tersebut, digagas oleh sekelompok anak-anak putih abu-abu alias SMU. Yang punya gawe adalah SMU 1 Mataram. Salut buat mereka yang tidak kalah dengan anak-anak ibukota.


MPS Time!

Menunggu 10 finalis main, tentu butuh energi tersendiri. Tak heran MPS sebagai bintang tamu baru naik panggung sekitar pukul 23.oo WITA. Mendapat jatah 5 lagu, membuat Renyka (Bass/Vocal), Deasy (Guitar), dan Jimbo (drum), seperti tak ingin kehilangan momen untuk langsung menggebrak. Dibuka dengan lagu "Fighting Fist", penonton yang sudah menunggu sejak sore hari, langsung maju ke bibir panggung. Disusul gempuran lagu selanjutnya "Halo Ibu Kos", "Gerombolan Siberat" dan tentu saja singel "Cinta 18".

Lumayan, penonton ikut menyanyikan lagu "Cinta 18" yang masuk dalam kompilasi "Berpacu Dalam Melodic". Rupanya lagu ini cukup dikenal di daerah yang bisa dibilang cukup jauh dari basis musik di Pulau Jawa.

Sekedar catatan, penonton tampaknya harus belajar menghargai penonton lain. Pasalnya, ketika sempat bersenggolan, mereka langsung bersitegang. Eh, mas.. Ini bukan konser dangdut yang senggol bacok lo ya? Untung saja mereka cepat sadar diri, sehingga tidak terjadi keributan yang lebih luas.

Terlalu singkat memang, karena 20 menit yang digeber, tidak terasa sudah berlalu. meski crowd masih minta tambahan lagu, panitia lokal bersikukuh tidak mengabulkan. Maklum, sudah mulai larut malam.


Catatan Penulis

Catatan dari penulis. Festival ini memang bukan festival yang terbaik, tapi paling tidak memberi gambaran Mataram (dan sekitarnya) punya keinginan untuk berkembang di bidang musik. Yang harus diperhatikan oleh komunitas musiknya, referensi musiknya harus lebih dikembangkan, supaya tidak tertinggal dengan daerah lain.

Untuk sebuah perhelatan musik, STIFEST ini patut diacungi jempol, meski baru satu jempol. Siapa tahu, ada musisi nasional yang kelak muncul dari ajang ini. (joko/foto: istimewa)


disadur dari: www.tembang.com